January 2026

Belajar Menulis Dengan Garis Putus-Putus: Tahapan Dari Garis ke Bentuk, Huruf, dan Angka

Panduan latihan menulis angka 1–20 untuk anak: urutan goresan yang benar, contoh lembar kerja yang bisa Ayah Bunda tiru, dan cara membetulkan kesalahan tanpa bikin anak stres.

Latihan Menulis Angka 1–20: Pola Benar, Contoh Lembar Kerja, dan Kesalahan yang Sering Terjadi

Latihan menulis angka 1–20 untuk anak
Sumber: Unsplash (Stephen Andrews) — Lisensi: Unsplash License

Untuk siapa artikel ini?

Artikel ini cocok untuk Ayah Bunda yang sedang mendampingi anak TK A–TK B atau kelas 1 yang mulai belajar menulis angka, terutama kalau anak sering menulis terbalik, ukurannya tidak konsisten, atau cepat frustrasi.

Artikel ini juga cocok untuk guru/pendamping belajar yang butuh panduan praktis: pola angka yang konsisten, contoh lembar kerja yang bisa dibuat cepat, dan cara memberi umpan balik yang tidak membuat anak “takut salah”.

Ayah Bunda bisa baca pelan-pelan, lalu langsung praktik 5–10 menit. Jika butuh tambahan printable, Ayah Bunda bisa mampir ke halaman Download Gratis atau lihat bundel di Paket Belajar.

Di bawah ini Ayah Bunda akan menemukan pola yang jelas untuk 0–9 dan 10–20, plus contoh lembar kerja versi manual yang bisa langsung Ayah Bunda tulis di kertas. Tidak perlu alat khusus—yang penting konsisten.

Ringkasan

Latihan menulis angka 1–20 kelihatannya sederhana, tapi di usia TK–kelas 1, angka itu baru benar-benar “nempel” kalau Ayah Bunda mengajarkan urutan goresan (stroke) yang konsisten. Dengan pola yang benar, anak lebih cepat rapi, lebih jarang terbalik (2/5/7/9), dan lebih percaya diri saat mulai berhitung.

Di artikel ini Ayah Bunda akan dapat: pola menulis angka 0–9 dan 10–20 yang gampang diikuti, contoh lembar kerja versi manual yang bisa langsung Ayah Bunda buat sendiri, serta daftar kesalahan yang paling sering terjadi berikut cara membetulkannya tanpa memarahi anak.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Fokus dulu ke pola, bukan hasil rapi. Anak yang paham urutan goresan biasanya rapi “mengikuti” belakangan.
  • Mulai dari angka 1–5, lalu 6–10, baru 11–20. Naik level cepat bikin anak mengulang salah yang sama.
  • Pakai 3 jenis latihan: jiplak (trace), tiru (copy), tulis mandiri. Campuran ini membuat tangan dan otak terkunci bareng.
  • Batasi durasi 5–10 menit per sesi. Lebih baik pendek tapi rutin daripada lama tapi jarang.
  • Perbaiki satu hal per sesi. Contoh: hari ini hanya fokus “mulai dari titik atas” untuk angka 2.

Kenapa Latihan Menulis Angka 1–20 Perlu Bertahap

Menulis angka itu gabungan dari motorik halus (kontrol jari), koordinasi mata–tangan, dan “peta” bentuk di kepala. Kalau Ayah Bunda langsung menuntut 1–20 rapi sekaligus, anak sering jatuh di 3 hal: cepat lelah, mulai menebak bentuk, dan akhirnya angka terlihat “menggambar”, bukan menulis.

Pendekatan bertahap membuat anak punya kebiasaan yang stabil: mulai dari titik yang sama, arah garis yang sama, dan ukuran yang relatif konsisten. Kebiasaan ini penting karena nanti anak akan menulis angka di banyak konteks: buku kotak, garis tiga, kolom matematika, sampai mengisi jawaban ujian.

Kalau Ayah Bunda butuh “paket latihan harian” yang siap pakai, Ayah Bunda bisa mulai dari halaman Download Gratis lalu lanjut ke bundel berbayar di Paket Belajar. Untuk variasi aktivitas pendamping (biar tidak melulu menulis), kombinasikan dengan latihan menggunting untuk anak TK di rumah supaya motorik halusnya ikut naik.

Catatan cepat: tiap anak berbeda. Untuk rujukan perkembangan umum (bukan patokan kaku), Ayah Bunda bisa lihat milestone di https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/milestones/index.html.

Pola Benar Menulis Angka 0–9

Tujuan bagian ini: Ayah Bunda dan anak punya “bahasa yang sama” soal titik mulai dan arah garis. Kalau di rumah Ayah Bunda konsisten, anak akan lebih cepat rapi meski latihannya singkat.

Arah garis dan titik mulai

Prinsip sederhana yang sering membantu: mulai dari atas, lanjut turun atau melingkar searah jarum jam (kecuali beberapa angka). Ayah Bunda tidak perlu kaku 100% selama pola yang dipakai stabil.

  • 0: mulai dari atas, lingkar searah jarum jam, kembali ke titik awal (jangan seperti huruf “O” besar yang lonjong berlebihan).
  • 1: garis lurus dari atas ke bawah. Jika anak butuh “kepala” kecil, buat garis pendek miring di atas, lalu turun (tetap satu alur).
  • 2: mulai dari atas, buat lengkung ke kanan, turun miring, lanjut garis bawah ke kanan. Hindari mulai dari bawah.
  • 3: mulai dari atas, lengkung kanan (setengah bulat), lanjut lengkung kanan lagi (dua “perut”).
  • 4: mulai dari garis vertikal turun, lalu garis mendatar dari kiri ke kanan, terakhir garis miring/tegak penutup (pilih satu versi dan konsisten).
  • 5: garis atas mendatar, turun sedikit, lalu lengkung besar ke bawah dan kembali naik sedikit. Banyak anak menulis 5 seperti “S”; fokuskan bentuk sudut atasnya.
  • 6: mulai dari atas, lengkung ke kiri turun jadi lingkar kecil, tutup di dalam (bayangkan “membuat 0 kecil lalu ekor”).
  • 7: garis atas mendatar, lalu garis miring turun. Jika perlu, tambahkan garis kecil di tengah (cross) agar tidak mirip 1.
  • 8: buat lingkar kecil atas lalu lingkar bawah (seperti “kacamata”). Cara lain: mulai dari atas, lengkung turun membentuk dua bulatan; pilih yang paling mudah untuk anak.
  • 9: buat lingkar kecil atas (seperti 0 kecil), lalu tarik garis turun sebagai ekor. Hindari mulai dari bawah.

Tip cepat untuk Ayah Bunda: saat anak salah arah, jangan langsung “itu salah”. Cukup ulangi instruksi pendek: “Mulai dari atas, ya.” Besok ulang lagi. Konsistensi menang.

Trik angka yang sering kebalik

Angka yang paling sering “kebalik” atau bentuknya melenceng: 2, 3, 5, 6, 9. Ini trik praktis yang biasanya efektif:

  1. Gunakan titik start. Buat satu titik kecil di area tempat anak harus mulai. Setelah 3–5 kali berhasil, titiknya diperkecil lalu dihilangkan.
  2. Pakainya “bahasa bentuk”. Contoh untuk 2: “Topi dulu, lalu turun, lalu kaki.” Untuk 5: “Atap, turun, perut.”
  3. Perbaiki ukuran, bukan detail. Banyak tulisan jelek karena terlalu kecil atau terlalu besar. Ajak anak menyamakan tinggi angka (misal setinggi satu kotak besar).
  4. Latihan mikro 30 detik. Kalau anak sudah lelah, cukup tulis 3 kali angka yang sama dengan benar, lalu berhenti.

Kalau Ayah Bunda ingin memperkuat kebiasaan menulis (bukan hanya angka), artikel-artikel di Solusi Parenting Anak biasanya lebih nyaman dibaca sambil praktek bareng anak.

Pola Benar Menulis Angka 10–20

Setelah anak stabil di 0–9, angka 10–20 sebenarnya mudah karena hanya kombinasi dua digit. Tantangannya: spasi dan konsistensi tinggi. Anak sering menempelkan angka (misal “11” jadi seperti satu garis tebal) atau menulis 0 terlalu besar sehingga “10” jadi mirip “100”.

Jangan “menggambar” 1 dan 0

Ajarkan aturan kecil: setiap digit selesai dulu, baru pindah. Jadi 1 selesai → angkat pensil → beri jarak → baru 0. Ini melatih kontrol dan mencegah anak “menyambung” bentuk seenaknya.

  • 10: 1 (selesai) + 0 (selesai). Jaraknya kira-kira selebar satu jari anak.
  • 11: dua angka 1 dengan jarak tipis. Ajarkan “dua tiang berdiri” supaya tidak jadi satu garis tebal.
  • 12–19: 1 + angka 2–9. Biasakan tinggi “1” sama dengan tinggi angka kedua.
  • 20: 2 + 0. Banyak anak ingin menulis 0 dulu; arahkan selalu dari kiri ke kanan.

Kalau anak sering “loncat” urutan kiri ke kanan, ini bukan soal nakal, tapi kebiasaan visual. Ayah Bunda bisa tempel contoh angka 10–20 di dinding kecil dekat meja, cukup satu baris, supaya mata anak punya acuan.

Spasi dan tinggi angka biar rapi

Trik termudah: gunakan kotak imajiner. Bayangkan tiap digit punya satu kotak sendiri. Di buku kotak, satu digit isi satu kotak; di kertas polos, Ayah Bunda bisa gambar kotak tipis pensil (nanti dihapus).

  • Tinggi angka: targetkan 70–90% tinggi kotak/garis. Jangan sampai angka “menabrak” garis atas dan bawah.
  • Lebar angka: 0, 6, 8 cenderung lebar; 1 sempit. Ajarkan “0 jangan kegemukan” dengan membuatnya sedikit oval.
  • Jarak antar digit: minimal ada celah putih yang jelas. Kalau anak masih sulit, beri tanda garis vertikal tipis sebagai pembatas.

Untuk anak yang gampang stres saat menulis, Ayah Bunda bisa selingi dengan aktivitas agama/tematik yang tetap melatih tangan, misalnya dari worksheet hijaiyah TK B. Prinsipnya sama: durasi singkat, rutin, dan fokus satu target kecil.

Contoh Lembar Kerja: Siap Print (Versi Manual)

Ayah Bunda tidak harus menunggu file PDF untuk mulai latihan. Berikut contoh lembar kerja yang bisa Ayah Bunda tulis sendiri di kertas HVS atau buku kotak. Kuncinya: ada urutan trace → copy → mandiri.

Template 10 menit

Alat: pensil 2B/HB, penghapus, satu lembar kertas/buku kotak, dan timer. Total waktu 10 menit.

  1. 1 menit pemanasan: gambar garis lurus atas–bawah 5 kali, lalu lingkaran kecil 5 kali.
  2. 4 menit trace: Ayah Bunda menulis angka putus-putus, anak menebalkan.
  3. 3 menit copy: anak meniru angka contoh di sebelahnya.
  4. 2 menit mandiri: anak menulis angka tanpa contoh (cukup 3–5 kali).

Contoh layout (Ayah Bunda boleh screenshot/ketik ulang):

Trace Copy Mandiri
2 2 2 2 2 (putus-putus) 2 (contoh) | _ _ _ _ _ _ _ _ _
5 5 5 5 5 (putus-putus) 5 (contoh) | _ _ _ _ _ _ _ _ _

Catatan: Tanda “_” berarti tempat anak menulis. Di buku kotak, Ayah Bunda bisa ganti “_” dengan kotak kosong.

Template untuk anak gampang bosan

Kalau anak cepat bosan, ubah lembar kerja menjadi “misi kecil”:

  • Misi 1: temukan angka 7 di halaman, lingkari 3 kali, lalu tulis 7 satu baris saja.
  • Misi 2: tulis tanggal hari ini (misal 12) dengan pola benar, lalu gambar 12 bintang kecil.
  • Misi 3: main “telepon angka”: Ayah Bunda sebut 3 angka (contoh 1-6-2), anak menulis urut.

Ayah Bunda juga bisa “menyelamatkan mood” dengan strategi non-akademik. Misalnya, kalau anak sedang fase menolak sekolah atau latihan apa pun, baca dulu tips di anak tidak mau sekolah TK, lalu kembali ke latihan angka dengan durasi lebih pendek.

Kesalahan yang Sering Terjadi dan Cara Membetulkan

Kesalahan saat menulis angka hampir selalu punya penyebab yang bisa diperbaiki. Kuncinya: Ayah Bunda memilih satu fokus koreksi per sesi. Terlalu banyak koreksi sekaligus membuat anak merasa “selalu salah”.

  • Angka terbalik (mirror): biasanya karena anak meniru dari contoh yang posisinya tidak jelas atau karena kebiasaan visual kiri–kanan belum stabil.
  • Ukuran angka tidak konsisten: biasanya karena tidak ada patokan tinggi (kertas polos tanpa garis) atau anak menulis terlalu cepat.
  • Garis gemetar: bisa karena tangan cepat lelah, pegangan pensil kencang, atau permukaan meja kurang stabil.
  • Angka seperti gambar: anak menggambar bentuk tanpa urutan goresan. Solusinya kembali ke titik start.

Terlalu cepat naik level

Ini paling sering terjadi: hari ini anak baru bisa 2 dan 3, besok langsung diminta 1–20. Yang terjadi: anak menebak bentuk dan mengunci kebiasaan salah. Patokan sederhana:

  1. Anak bisa menulis 5 kali angka yang sama dengan pola yang sama (meski belum rapi) → baru lanjut angka berikutnya.
  2. Kalau 2 sesi berturut-turut angka tetap kacau → turunkan level (kembali trace).
  3. Setiap naik level, sisipkan 1 angka lama supaya rasa “bisa” tetap ada.

Pegangan pensil bikin pegal

Kalau anak cepat pegal, biasanya grip terlalu kencang atau posisi tubuh tidak enak. Cek cepat:

  • Kursi dan meja: siku kurang lebih 90 derajat, kaki menapak (boleh pakai bangku kecil).
  • Pensil: pilih pensil yang tidak licin; untuk pemula bisa pakai grip karet.
  • Aturan 2 menit: kalau tangan mulai lelah, berhenti 30–60 detik. Lanjut lagi 1–2 menit. Selesai.

Untuk bacaan ringan tentang kenapa latihan menulis itu penting (dan kenapa beberapa anak butuh pendekatan berbeda), Ayah Bunda bisa lihat: handwriting di https://www.understood.org/en/articles/handwriting-what-it-is-and-why-it-matters dan sudut pandang okupasi terapi di https://www.aota.org/practice/children-youth/handwriting.

Rutinitas 2 Minggu: Dari Coret ke Rapi

Rutinitas ini dibuat supaya Ayah Bunda tidak bingung “harus mulai dari mana”. Durasi singkat, tapi progresnya terasa karena targetnya kecil dan terukur.

Jadwal harian singkat

  • Hari 1–2: 1, 0, 2 (trace + copy). Fokus titik mulai.
  • Hari 3–4: 3, 4, 5. Fokus bentuk sudut (4) dan “perut” (5).
  • Hari 5–6: 6, 7. Fokus arah lengkung (6) dan garis miring (7).
  • Hari 7: review 1–7 (pilih 3 angka yang paling sulit).
  • Hari 8–9: 8, 9. Fokus dua bulatan (8) dan ekor (9).
  • Hari 10: review 0–9 (mandiri 1 baris per angka yang paling sering salah).
  • Hari 11–12: 10–15. Fokus jarak antar digit.
  • Hari 13–14: 16–20. Fokus tinggi angka tetap sama.

Setiap hari cukup 5–10 menit. Kalau Ayah Bunda melihat tanda mulai jenuh (menghela napas, melambat, menghapus terus), berhenti lebih cepat. Lebih baik tutup sesi dengan rasa “masih sanggup” daripada “kapok”.

Cara menilai progres

Ayah Bunda tidak perlu menilai dari “bagus” atau “jelek”. Pakai checklist sederhana:

  1. Konsisten mulai dari atas (ya/tidak).
  2. Arah garis stabil (ya/tidak).
  3. Ukuran mendekati sama (kecil/sedang/bagus).
  4. Jarak antar digit (menempel/sedikit/bagus).

Simpan 1 lembar per minggu sebagai “foto perkembangan”. Anak biasanya bangga saat melihat tulisan minggu ini lebih rapi daripada minggu lalu.

Kapan Perlu Bantuan Guru/Profesional

Kebanyakan anak akan membaik dengan latihan singkat yang konsisten. Namun Ayah Bunda bisa mempertimbangkan bantuan guru atau profesional (misalnya okupasi terapi) kalau:

  • Anak selalu sangat kesakitan/pegal saat menulis meski durasi singkat.
  • Koordinasi dasar sulit: tidak bisa meniru garis lurus atau lingkaran sederhana di usia yang seharusnya sudah mampu.
  • Frustrasi ekstrem setiap kali menulis sampai menangis atau menghindar total, dan kondisi ini berlangsung lama.

Ayah Bunda tidak perlu menunggu “parah”. Konsultasi itu boleh untuk mencari strategi yang lebih pas. Artikel rujukan umum tentang perkembangan anak ada di https://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/milestones/index.html (sekadar gambaran, bukan diagnosis).

Apa yang Jarang Dibahas

Banyak panduan latihan menulis angka berhenti di “ini pola angkanya”. Padahal, hasil paling sering ditentukan oleh hal-hal kecil yang jarang dibahas. Ayah Bunda tidak perlu belanja alat mahal—cukup rapikan sistemnya.

1) Permukaan menulis itu pengaruh besar. Anak yang menulis di meja goyang atau di lantai tanpa alas rata, biasanya garisnya gemetar dan cepat capek. Coba pakai papan tipis (clip board) atau buku tebal sebagai alas. Kalau menulis di buku kotak, pastikan buku tidak “melengkung” di tengah.

2) Kertas polos sering bikin angka “loncat”. Banyak anak terlihat “tidak bisa” padahal masalahnya: tidak ada patokan tinggi. Solusi murah: gambar dua garis tipis (atas–bawah) atau pakai buku garis/kotak. Setelah anak stabil, baru balik ke kertas polos untuk latihan variasi.

3) Anak kidal butuh posisi kertas yang berbeda. Kalau anak kidal, putar kertas sedikit ke kanan (sekitar 20–30 derajat) supaya tangan tidak menutup tulisan. Ajarkan pegangan pensil yang tidak terlalu menekuk pergelangan. Biasanya tulisan langsung lebih bersih karena anak bisa “melihat” apa yang sedang ditulis.

4) Terlalu sering menghapus membuat anak makin tegang. Saat anak menghapus berulang-ulang, tangan akan menekan pensil lebih kuat, lalu makin pegal. Terapkan aturan sederhana: “Tulis 3 kali dulu, baru pilih 1 yang paling bagus.” Jika ada yang salah, cukup coret satu garis dan lanjut. Ini melatih anak menerima proses.

5) “Rapi” bukan target pertama—“konsisten” yang utama. Di awal, angka anak bisa saja besar-kecil. Selama Ayah Bunda melihat titik mulai dan arah garis sudah benar, itu kemenangan. Nanti rapi muncul karena otot kecilnya makin kuat dan otaknya makin hafal pola.

6) Campur latihan angka dengan aktivitas makna. Anak lebih mau menulis kalau ada tujuan. Contoh: menulis umur, menulis jumlah buah yang dimakan, menulis nomor rumah, atau menulis skor permainan. Ini mengubah menulis dari “tugas” menjadi “alat”.

7) Simpan contoh “versi Ayah Bunda”. Banyak anak bingung karena contoh angka berbeda-beda (di buku, di layar, di tulisan orang). Ayah Bunda pilih satu gaya angka, tulis di kartu kecil, tempel dekat meja. Saat anak lupa, cukup tunjuk kartunya—tidak perlu ceramah.

8) Gunakan pendekatan multisensori sebelum pensil. Kalau anak menolak menulis, jangan langsung “dipaksa duduk”. Mulai dari menulis angka dengan jari di udara (air writing), menulis angka di punggung Ayah Bunda, atau membentuk angka dengan plastisin. Setelah itu, pindah ke spidol papan tulis kecil, baru ke pensil. Jalur ini sering membuat anak merasa “bisa” duluan.

9) Pilih hadiah yang tidak merusak motivasi. Stiker boleh, tapi jangan jadi syarat “kalau tidak rapi, tidak dapat”. Lebih baik hadiah untuk perilaku: “Ayah Bunda suka tadi mulai dari atas.” Hadiah terbaik sering berupa kendali: anak boleh memilih angka mana yang mau dilatih hari ini, atau memilih warna pensil.

10) Gabungkan angka dengan jumlah (sense of number). Anak kadang hafal bentuk angka tapi tidak paham maknanya. Coba pola sederhana: tulis angka 12, lalu gambar 12 titik/12 bintang. Ini membuat menulis angka terasa “nyambung” dengan berhitung dan menguatkan fokus.

Bonus kecil untuk Ayah Bunda yang sering membagikan artikel ini lewat website: kalau Ayah Bunda menaruh gambar lembar kerja di artikel, pastikan ukurannya tidak bikin halaman “lompat” saat loading (supaya nyaman dibaca). Rujukan teknis singkat tentang stabilitas layout ada di https://web.dev/articles/optimize-cls.

FAQ

Umur berapa ideal mulai latihan menulis angka 1–20?

Umumnya anak mulai tertarik menulis angka di rentang TK A sampai TK B, lalu semakin stabil di kelas 1. Namun yang lebih penting dari umur adalah tanda siap: anak bisa menggambar garis lurus dan lingkaran sederhana, bisa duduk fokus 5 menit, dan mau meniru contoh. Jika belum, mulai dari pra-menulis (garis, lengkung) dulu agar tidak frustrasi.

Anak sudah bisa mengenal angka tapi tulisannya selalu terbalik, harus bagaimana?

Fokuskan pada satu angka dulu (misal 2). Buat titik start di tempat yang benar, lalu minta anak menulis pelan 3 kali saja. Besok ulang. Hindari memberi banyak contoh yang berbeda gaya. Tempel satu contoh versi Ayah Bunda di meja. Biasanya kebalik berkurang saat anak punya acuan yang konsisten dan tidak terburu-buru.

Lebih bagus pakai buku kotak, garis tiga, atau lembar polos?

Untuk pemula, buku kotak atau garis membantu karena ada patokan tinggi. Lembar polos cocok setelah anak sudah stabil dan Ayah Bunda ingin melatih kerapian tanpa “pegangan”. Banyak keluarga sukses memakai urutan: kotak → garis → polos. Yang penting: jangan ganti-ganti setiap hari.

Berapa menit latihan yang “cukup” tiap hari?

Untuk anak TK–kelas 1, 5–10 menit per hari sudah cukup, asalkan rutin dan targetnya jelas. Bila Ayah Bunda punya waktu lebih, tambahkan aktivitas motorik halus (gunting-tempel, meronce, mewarnai) daripada memanjangkan sesi menulis angka.

Daftar Istilah

Stroke (urutan goresan)
Urutan dan arah garis saat menulis angka/huruf. Konsisten stroke biasanya membuat tulisan lebih rapi.
Trace
Menebalkan tulisan putus-putus sebagai tahap awal latihan.
Copy
Meniru contoh angka yang ditulis utuh, biasanya diletakkan di sebelah area latihan.
Motorik halus
Kemampuan mengontrol otot kecil di jari dan tangan untuk aktivitas presisi seperti menulis, mengancingkan baju, atau menggunting.
Koordinasi mata–tangan
Kemampuan mata mengarahkan gerakan tangan agar garis yang dibuat sesuai target.

Penutup

Latihan menulis angka 1–20 tidak perlu drama dan tidak perlu lama. Yang dibutuhkan adalah pola yang benar, rutinitas pendek, dan cara koreksi yang lembut. Kalau Ayah Bunda konsisten 5–10 menit per hari, biasanya perubahan terlihat dalam 2–3 minggu.

Jika Ayah Bunda ingin stok latihan siap pakai, mulai dari halaman Download Gratis, lalu pilih bundel yang cocok di Paket Belajar. Untuk variasi aktivitas pendamping, Ayah Bunda juga bisa eksplor artikel
Tracing Huruf Hijaiyah untuk Anak: Mulai dari Alif–Ya + Tips Biar Anak Nggak Cepat Bosan

Belajar Menulis Dengan Garis Putus-Putus: Tahapan Dari Garis ke Bentuk, Huruf, dan Angka Read More »