Worksheet Calistung TK B: Checklist Materi Siap Masuk SD + Contoh Latihan Harian

Untuk Ayah Bunda yang anaknya sedang TK B (atau baru naik TK B) dan mulai kepikiran: “Apa saja yang sebaiknya sudah dikuasai sebelum masuk SD?” Artikel ini fokus pada checklist materi yang realistis, plus contoh latihan harian yang singkat.
Untuk guru TK/pendamping belajar, artikel ini bisa dipakai sebagai peta jalan: dari aktivitas paling mudah (motorik halus & arah garis) sampai latihan yang lebih “akademik” tapi tetap berbasis bermain, tanpa bikin anak tertekan.
Istilah “calistung” sering bikin orang tua serba salah: di satu sisi ingin anak siap sekolah, di sisi lain khawatir terlalu memaksa. Kuncinya bukan mengejar cepat bisa, tapi membangun fondasi: literasi, numerasi, dan keterampilan sosial-emosional. UNESCO menyebut fondasi ini sebagai foundational skills yang mencakup literasi, numerasi, dan sosial-emosional. Untuk baca lengkap, lihat: https://www.unesco.org/en/quality-learning/foundational, https://www.worldbank.org/en/topic/education/brief/foundational-learning, https://www.naeyc.org/resources/pubs/yc/nov2017/emergent-writing, https://www.cdc.gov/act-early/milestones/5-years.html, https://www.readingrockets.org/topics/writing/articles/handwriting-whats-normal-whats-not.
Di Solusi Parenting Anak, Ayah Bunda bisa mulai dari bahan gratis dulu sebelum ambil paket premium: cek https://solusiparentinganak.com/download-gratis/. Kalau Ayah Bunda butuh bundel latihan yang rapi per level (plus panduan), lihat juga https://solusiparentinganak.com/paket-belajar/.
Artikel ini sengaja dibuat super praktis: ada checklist materi TK B, contoh latihan 7 hari, dan cara menilai progres tanpa “tes” yang bikin anak cemas. Ayah Bunda juga akan dapat ide aktivitas non-worksheet supaya latihan tetap fun (bisa dipadukan dengan ide di https://solusiparentinganak.com/aktivitas-tk-tanpa-gadget/).
Ringkasan
Worksheet Calistung TK B yang “aman” itu bukan yang paling banyak halamannya, melainkan yang naik level pelan-pelan: dari garis → bentuk → huruf/angka → aplikasi sederhana (misalnya menghitung benda). Di TK B, target idealnya adalah anak punya kebiasaan belajar singkat yang konsisten, mampu mengikuti instruksi 2–3 langkah, dan semakin kuat motorik halusnya.
Patokannya sederhana: kalau latihan 10–15 menit per hari bisa berjalan tanpa drama, anak menikmati proses, dan kemampuan dasar (memegang pensil, mengenali angka, memahami cerita) meningkat, maka Ayah Bunda sudah on track. Untuk yang butuh “indikator umum” perkembangan usia 5 tahun, CDC menyediakan daftar milestones yang bisa jadi referensi awal: https://www.cdc.gov/act-early/milestones/5-years.html.
Daftar Isi
- Ringkasan
- Inti Penting
- Checklist Materi Calistung TK B
- Rencana Latihan Harian 10–15 Menit
- Contoh Worksheet & Aktivitas Siap Print
- Cara Menilai Kesiapan Anak Masuk SD
- Kesalahan Umum & Cara Membetulkannya
- Tips Membuat Anak Konsisten Tanpa Drama
- Apa yang Jarang Dibahas
- FAQ
- Daftar Istilah
- Penutup
Inti Penting
- Prioritas TK B: motorik halus, kesadaran bunyi, pemahaman konsep angka (bukan hafalan semata), dan kemandirian.
- Latihan harian paling efektif: 10–15 menit, rotasi aktivitas, dan selalu ada penutup yang menyenangkan (baca buku/cerita).
- Worksheet yang bagus punya progression jelas: garis → bentuk → pola → huruf/angka → soal sederhana.
- Kalau anak mulai rewel: turunkan level, pendekkan durasi, ganti media (pasir, plastisin, magnet huruf) sebelum kembali ke kertas.
- Tujuan akhir: anak percaya diri dan siap mengikuti ritme SD, bukan sekadar cepat bisa membaca.
Checklist Materi Calistung TK B
Anggap checklist ini seperti “dashboard”. Ayah Bunda tidak harus menuntaskan semuanya sekaligus. Pilih 2–3 indikator untuk dikerjakan 2 minggu, baru naik ke indikator berikutnya. Dengan cara ini, Ayah Bunda lebih mudah melihat progres nyata.
Literasi (Pra-Membaca): Bunyi, Kosakata, dan Pemahaman
Pra-membaca bukan berarti anak harus langsung lancar membaca buku tebal. Di TK B, fondasinya adalah kemampuan “menangkap” bahasa: mendengar bunyi, mengenali huruf sebagai simbol, dan paham isi cerita. World Bank menekankan foundational learning sebagai dasar literasi dan numerasi—jadi yang kita bangun dulu adalah pondasinya. Rujukan: https://www.worldbank.org/en/topic/education/brief/foundational-learning.
- Mengenali nama sendiri (bisa menunjuk huruf awal namanya).
- Membedakan bunyi awal: “buku” bunyi awalnya /b/.
- Rima sederhana: kucing–pusing (main tebak rima).
- Print awareness: tahu arah membaca kiri→kanan, atas→bawah; tahu bedanya gambar vs tulisan.
- Mampu menceritakan ulang isi cerita 3–5 kalimat (pakai bahasanya sendiri).
Latihan super ringan: 3 menit “tebak bunyi awal” sebelum mulai worksheet. Ayah Bunda sebutkan 3 benda di rumah, anak tebak bunyi awalnya. Ini jauh lebih efektif dibanding memaksa membaca saat anak belum siap.
Menulis (Pra-Menulis): Motorik Halus, Arah Garis, dan Nama
Menulis itu gabungan banyak kemampuan: otot jari, koordinasi mata-tangan, dan daya tahan duduk. NAEYC menekankan pentingnya aktivitas motorik halus untuk kesiapan keterampilan yang lebih “akademik”, termasuk menulis. Lihat: https://www.naeyc.org/our-work/families/help-your-child-build-fine-motor-skills.
- Memegang pensil dengan lebih stabil (tidak harus “sempurna”, yang penting nyaman dan tidak cepat pegal).
- Mengikuti garis: lurus, miring, lengkung, zigzag; mulai dari ukuran besar dulu.
- Meniru bentuk dasar: lingkaran, garis silang (+), kotak, segitiga.
- Menulis nama sendiri (awal boleh tebalin titik-titik; targetnya makin mandiri).
- Membedakan huruf yang mirip (b–d, p–q) lewat permainan visual, bukan dimarahi.
Jika Ayah Bunda ingin “patokan normal” perkembangan tulisan tangan, Reading Rockets punya artikel bagus tentang apa yang wajar dan tidak wajar pada perkembangan handwriting: https://www.readingrockets.org/topics/writing/articles/handwriting-whats-normal-whats-not.
Numerasi (Pra-Matematika): Bilangan, Pola, dan Logika
Di TK B, numerasi terbaik dibangun dari benda nyata. Targetnya bukan cepat mengerjakan soal, tetapi memahami konsep: “berapa banyak”, “lebih banyak”, “lebih sedikit”, “urutan”, dan pola. UNESCO juga menekankan numerasi sebagai bagian dari foundational skills. Rujukan: https://www.unesco.org/en/quality-learning/foundational.
- Mengenali angka 0–10 (lalu 11–20 bertahap), dan menghubungkan angka dengan jumlah benda.
- Mengurutkan angka, memahami “sebelum–sesudah”.
- Membandingkan jumlah: lebih banyak/lebih sedikit/sama.
- Mengenal pola sederhana: ABAB, AABB, ABC (pakai warna/bentuk/benda).
- Konsep tambah-kurang paling dasar dengan benda (misalnya 3 kancing tambah 1 = 4).
Tips cepat: kalau anak sudah bisa menghitung hafalan sampai 20 tapi bingung saat diminta “ambil 7 kancing”, berarti konsep jumlahnya belum kuat. Kembalikan ke permainan hitung benda sebelum lanjut worksheet.
Sosial-Emosional & Kemandirian: Bekal Masuk SD
Ini sering dilupakan karena tidak terlihat “akademik”, padahal sangat menentukan adaptasi anak di SD. Kesiapan sekolah itu mencakup kemampuan mengikuti aturan, menunggu giliran, mengelola frustrasi, dan mandiri dalam hal dasar.
- Mau mencoba lagi saat salah (tidak langsung tantrum).
- Mampu duduk fokus 10 menit (dengan jeda gerak yang wajar).
- Mengikuti instruksi 2–3 langkah (“ambil pensil, buka halaman, lingkari angka 3”).
- Mandiri sederhana: pakai sepatu/kaos kaki, bereskan alat tulis, cuci tangan sebelum makan.
- Mau berinteraksi: menyapa, minta tolong, dan menyampaikan kebutuhan dengan kata-kata.
Ayah Bunda bisa selipkan materi adab harian untuk melatih rutinitas. Misalnya sebelum makan, pakai worksheet doa sederhana: https://solusiparentinganak.com/worksheet-doa-sebelum-makan-untuk-anak-paud-pdf/. Ini bukan cuma “agama”, tapi juga latihan fokus, urutan, dan kebiasaan.
Rencana Latihan Harian 10–15 Menit
Kalau Ayah Bunda hanya punya waktu sedikit, justru bagus: durasi singkat memaksa kita memilih aktivitas yang paling berdampak. Targetnya konsisten, bukan lama.
Format 3 Langkah: Pemanasan–Inti–Penutup
- Pemanasan (2–3 menit): remas plastisin, jepit penjepit baju, atau tracing garis besar. Tujuannya “bangunin” otot jari.
- Inti (7–9 menit): 1 halaman worksheet atau 1 aktivitas meja (misalnya mencocokkan angka dengan jumlah benda).
- Penutup (2–3 menit): baca buku cerita, tebak bunyi awal, atau “cerita 3 kalimat” dari gambar. Tutup dengan rasa berhasil.
Prinsip sederhana: kalau anak macet di inti lebih dari 2 menit, Ayah Bunda bantu dengan “contoh 1 kali” lalu biarkan anak menyelesaikan 1–2 item saja. Lebih baik selesai sedikit tapi sukses, dibanding banyak tapi berantem.
Template Jadwal 7 Hari (Rotasi)
Rotasi mencegah bosan dan melatih berbagai aspek. Contoh (silakan tukar hari sesuai rutinitas keluarga):
- Hari 1: garis lurus & miring + tebak bunyi awal
- Hari 2: bentuk dasar + hitung benda 1–10
- Hari 3: huruf awal nama + rima sederhana
- Hari 4: angka 1–10 + cocokkan jumlah
- Hari 5: pola warna/bentuk + cerita 3 kalimat
- Hari 6: “mini proyek” (gunting-tempel, kolase) + baca buku
- Hari 7: review santai 10 menit + pilih aktivitas favorit anak
Untuk ide “hari 6” yang minim gadget tapi bikin anak anteng, Ayah Bunda bisa ambil inspirasi dari: https://solusiparentinganak.com/aktivitas-tk-tanpa-gadget/.
Alat Sederhana yang Membantu (Tanpa Harus Mahal)
- Pensil segitiga atau grip karet (opsional): membantu anak yang cepat pegal.
- Kertas lebih tebal (80–100 gsm) untuk mengurangi robek dan bikin garis lebih “berasa”.
- Penghapus lembut: supaya anak tidak frustrasi saat salah.
- Timer visual (pakai jam pasir kecil): anak lebih paham kapan selesai.
- Stiker kecil untuk apresiasi proses (bukan nilai).
Kalau anak Ayah Bunda tipe “manja” dan gampang minta ditemani terus, latihan durasi singkat + apresiasi proses biasanya lebih efektif. Kalau butuh strategi pola asuh di rumah, baca: https://solusiparentinganak.com/parenting-anak-manja-di-rumah/.
Contoh Worksheet & Aktivitas Siap Print
Di bawah ini contoh jenis latihan yang bisa Ayah Bunda jadikan acuan saat memilih worksheet. Bukan berarti harus persis sama—yang penting prinsip levelnya.
Level 1: Garis & Bentuk (Paling Aman untuk Pemula)
- Tracing garis lurus/miring: dari tebal dan panjang → makin tipis dan pendek.
- Menjiplak bentuk besar: lingkaran, kotak, segitiga.
- Menghubungkan titik (dot-to-dot) 1–10 untuk membentuk gambar sederhana.
- Mewarnai area besar dengan aturan 1 warna (latih kontrol, bukan seni).
Kalau anak masih “keluar jalur” saat tracing, itu normal. Perbaiki dengan: perbesar ukuran, kurangi jumlah item, dan pakai pemanasan plastisin 2 menit dulu.
Level 2: Huruf, Suku Kata, dan Kesadaran Bunyi
- Mengenal huruf lewat huruf awal (nama sendiri, nama keluarga, benda favorit).
- Pasangkan huruf dengan gambar: B = bola, K = kucing.
- Tepuk suku kata: bo-la (2 tepuk), ku-cing (2 tepuk).
- Menebalkan huruf putus-putus ukuran besar sebelum ukuran kecil.
Di tahap ini, Ayah Bunda bisa mengutamakan “paham bunyi” dibanding memaksa membaca kata. Banyak anak lebih cepat “nempel” kalau bunyinya kuat dulu.
Level 3: Angka, Pola, dan Perbandingan
- Menebalkan angka 0–10 ukuran besar.
- Cocokkan angka dengan jumlah gambar (misal angka 5 dengan 5 apel).
- Lingkari “yang lebih banyak” dari dua kelompok benda.
- Lanjutkan pola: merah–biru–merah–biru–…
Aturan main: selalu ada benda nyata sebagai “jembatan” (kancing, stik es krim, lego). Worksheet jadi latihan akhir, bukan awal.
Level 4: Berhitung Konkret (Tambah–Kurang dengan Benda)
- Soal cerita mini: “Ada 2 kue, ditambah 1 kue. Jadi berapa?”
- Gambar lalu hitung (anak menggambar titik/lingkaran sebagai benda).
- Kurang sederhana: “Ada 5 stik, dipakai 2. Sisa berapa?”
- Main toko-tokoan: bayar pakai koin mainan untuk latihan jumlah.
Tujuan tahap ini bukan “matematika SD”, tapi melatih logika jumlah. Jika anak sudah nyaman, transisi ke kelas 1 biasanya lebih mulus.
Cara Menilai Kesiapan Anak Masuk SD
Banyak orang tua menilai kesiapan SD dari “sudah bisa baca atau belum”. Padahal, kesiapan yang lebih menentukan adalah: fokus, mengikuti instruksi, dan fondasi literasi-numerasi. Gunakan cara penilaian yang tidak menakutkan.
Checklist Observasi 2 Minggu (Bukan Tes Sekali Duduk)
Selama 2 minggu, catat singkat (boleh pakai checklist di HP) apakah anak:
- Mau duduk belajar 10 menit tanpa paksaan berat.
- Bisa menyelesaikan 1 halaman worksheet levelnya dengan bantuan minimal.
- Mengenali angka 1–10 dan bisa mengambil jumlah benda sesuai angka.
- Tahu huruf awal namanya, dan mulai paham bunyi awal beberapa kata.
- Mampu merapikan alat belajar setelah selesai.
Jika 3–4 poin di atas sudah cukup stabil, biasanya anak siap mengikuti ritme SD. Kalau belum, tidak masalah: berarti fokusnya di fondasi, bukan buru-buru naik level.
Tanda Anak Butuh Bantuan Tambahan (Kapan Konsultasi)
- Motorik halus sangat lemah: cepat sekali pegal, selalu menghindari kegiatan tangan.
- Sulit memahami instruksi sederhana meski suasana tenang.
- Sangat frustrasi saat salah sampai mengganggu aktivitas harian.
- Perkembangan bicara/komunikasi tertinggal jauh dibanding teman sebaya.
Kalau Ayah Bunda melihat tanda-tanda ini konsisten, pertimbangkan konsultasi dengan profesional (dokter anak, psikolog anak, atau terapis okupasi) untuk evaluasi yang lebih tepat. Artikel ini tidak menggantikan penilaian profesional.
Kesalahan Umum & Cara Membetulkannya
Worksheet itu alat bantu. Kalau cara pakainya salah, hasilnya bisa kebalik: anak jadi benci belajar. Tiga kesalahan di bawah ini paling sering kejadian di rumah.
Terlalu Cepat Naik Level Worksheet
Gejala: baru bisa tracing garis 1–2 hari, langsung diminta menulis huruf kecil rapi. Anak jadi sering salah, coret-coret, dan mulai menolak.
Perbaikan cepat: kembali ke level sebelumnya selama 1 minggu, tapi buat variasi medianya (spidol papan tulis, pasir, plastisin) supaya tidak terasa “mundur”. Setelah stabil, naik level lagi pelan.
Memaksa Menulis Kecil dan Rapi dari Awal
Gejala: tulisan anak berantakan → Ayah Bunda minta ulang sampai rapi. Akhirnya anak pegal dan emosi.
Perbaikan cepat: mulai dari ukuran besar (garis tebal, kotak besar). Fokuskan dulu pada arah dan bentuk. Kerapian biasanya menyusul ketika kontrol otot jari membaik.
Fokus Hasil, Lupa Proses & Regulasi Emosi
Gejala: setiap salah langsung dikoreksi, anak jadi takut salah. Padahal di usia TK, salah itu bagian normal dari belajar.
Perbaikan cepat: ganti kalimat koreksi menjadi: “Coba lagi ya, Ayah/Bunda contohin 1 kali.” Lalu beri pilihan: “Mau lanjut 2 soal lagi atau istirahat 2 menit?” Anak merasa punya kontrol.
Tips Membuat Anak Konsisten Tanpa Drama
Konsistensi bukan soal anak “nurutin”. Ini soal sistem yang membuat belajar terasa ringan dan bisa diprediksi. Di bawah ini strategi yang biasanya paling berdampak.
Set Up Sudut Belajar 5 Menit
- Satu kotak alat belajar: pensil, penghapus, lem, gunting aman, stiker.
- Satu tempat tetap: meja kecil atau pojok ruang tamu.
- Satu aturan: “belajar dulu 10 menit, habis itu bebas main”.
Dengan tempat dan alat yang tetap, Ayah Bunda mengurangi drama “cari pensil” dan “nunggu kertas”. Momentum anak jadi lebih cepat kebentuk.
Sistem Apresiasi yang Sehat (Bukan Suap)
Bedakan apresiasi proses vs hadiah. Apresiasi proses itu seperti: “Kamu tekun banget ngerjain sampai selesai.” Hadiah boleh, tapi jangan jadi syarat utama.
- Gunakan stiker sebagai penanda konsistensi (misal target 5 hari latihan).
- Hadiah terbaik: aktivitas bareng (main bola, masak bareng), bukan selalu barang.
- Kalau anak gagal 1 hari, jangan dihapus semua. Cukup lanjut besok.
Kolaborasi dengan Guru TK/Calon Guru SD
Kalau Ayah Bunda ragu targetnya, komunikasi dengan guru TK sangat membantu: minta info kebiasaan anak di kelas (fokus, mengikuti instruksi, interaksi). Ini lebih bermakna daripada sekadar “bisa baca atau belum”.
Apa yang Jarang Dibahas
1) Postur, pencahayaan, dan posisi kertas sering menentukan rapi-tidaknya tulisan. Anak yang duduk terlalu rendah/tinggi akan cepat pegal. Coba aturan sederhana: kaki menapak, siku nyaman di meja, cahaya datang dari samping (tidak bikin bayangan menutupi tulisan). Posisi kertas sedikit miring mengikuti tangan dominan anak (kanan/kiri) sering membantu garis lebih stabil.
2) “Kekuatan jari” bukan satu-satunya faktor—visual-motor integration juga penting. Ada anak yang kuat meremas, tapi tetap sulit mengikuti garis karena koordinasi mata-tangan belum matang. Solusinya bukan menambah halaman worksheet, tapi menambah latihan visual: maze sederhana, menghubungkan titik, mencari perbedaan gambar, atau menyalin pola balok. Aktivitas ini terasa seperti bermain, tetapi efeknya besar ke tulisan.
3) Toleransi frustrasi adalah bahan bakar belajar. Di TK B, anak sedang belajar mengelola emosi saat gagal. Kalau setiap salah langsung dibenerin, anak tidak belajar strategi “coba lagi”. Gunakan kalimat yang menormalisasi proses: “Wajar kok salah, kita latihan.” Lalu beri jeda gerak 30–60 detik (stretch, lompat kecil) sebelum lanjut. Banyak anak bisa kembali fokus setelah jeda singkat.
4) Worksheet bukan musuh—yang bikin “berat” adalah desain dan timing. Worksheet dengan font kecil, terlalu padat, atau instruksi panjang membuat anak cepat drop. Pilih worksheet yang: (a) satu tujuan per halaman, (b) visual bersih, (c) ada ruang cukup untuk coretan anak, (d) ada contoh 1 item. Timing juga krusial: hindari jam anak lapar/mengantuk. Banyak keluarga lebih sukses di pagi (setelah sarapan) atau sore (setelah tidur siang).
5) Kesiapan masuk SD itu lintas domain. Anak yang sudah bisa mengeja tapi belum bisa menunggu giliran, belum mandiri ke toilet, atau mudah tantrum, sering lebih sulit adaptasi di SD dibanding anak yang literasinya sedang tapi regulasi emosinya baik. Jadi, saat Ayah Bunda menyusun “checklist TK B”, gabungkan target akademik dan non-akademik. Ini sejalan dengan cara banyak lembaga memandang foundational learning sebagai gabungan literasi, numerasi, dan sosial-emosi (lihat: https://www.unesco.org/en/quality-learning/foundational dan https://www.worldbank.org/en/topic/education/brief/foundational-learning).
6) Jangan lupa “bahasa lisan”. Banyak praktik pendidikan anak usia dini menempatkan percakapan, bercerita, dan membaca nyaring sebagai pendorong literasi. Jadi, kalau Ayah Bunda bingung memilih: 1 halaman worksheet atau 1 sesi baca buku 5 menit—sering kali membaca nyaring memberi dampak yang sama besar (bahkan lebih) untuk pemahaman dan kosakata, yang nanti jadi bekal membaca mandiri.
FAQ
Berapa lama latihan calistung untuk TK B per hari yang ideal?
Idealnya 10–15 menit per hari, 4–6 hari per minggu. Kalau Ayah Bunda mau menambah durasi, tambahkan lewat permainan (lego, mencocokkan kartu, membaca nyaring), bukan menambah worksheet terus-menerus.
Apakah anak TK B harus sudah bisa membaca lancar sebelum masuk SD?
Tidak harus. Yang lebih penting: fondasi pra-membaca (kesadaran bunyi, kosakata, pemahaman cerita, minat pada buku) dan kemampuan mengikuti instruksi. Membaca lancar biasanya berkembang pesat saat anak sudah siap secara bahasa dan fokus.
Wajar nggak kalau anak masih terbalik menulis angka/huruf?
Masih wajar pada banyak anak usia TK, terutama huruf/angka yang bentuknya mirip. Fokus pada latihan visual dan arah garis (besar dulu), gunakan contoh, dan jangan mempermalukan. Kalau pembalikan konsisten sampai mengganggu dan disertai kesulitan lain, pertimbangkan evaluasi profesional.
Kalau anak cepat bosan dengan worksheet, solusinya apa?
Ganti 50% latihan menjadi aktivitas bermain: plastisin, pasir, kartu huruf/angka, gunting-tempel, atau permainan hitung benda. Gunakan worksheet hanya 1 halaman per sesi, lalu tutup dengan aktivitas yang anak suka.
Daftar Istilah
- Calistung
- Kegiatan belajar membaca, menulis, dan berhitung. Untuk TK, fokusnya membangun fondasi lewat aktivitas yang sesuai usia.
- Pra-membaca (emergent literacy)
- Keterampilan awal sebelum membaca lancar, seperti kesadaran bunyi, kosakata, dan pemahaman cerita.
- Pra-menulis (emergent writing)
- Keterampilan awal sebelum menulis rapi, seperti tracing garis, meniru bentuk, dan koordinasi mata-tangan.
- Numerasi
- Kemampuan memahami konsep bilangan dan logika dasar, misalnya menghitung benda, membandingkan jumlah, dan mengenali pola.
- Regulasi emosi
- Kemampuan mengelola rasa kecewa/frustrasi dan kembali mencoba saat mengalami kesulitan.
Penutup
Kalau Ayah Bunda hanya ingat satu hal dari artikel ini: konsistensi kecil mengalahkan latihan panjang yang jarang. TK B adalah fase membangun kebiasaan, fondasi, dan rasa percaya diri.
Mulailah dari level paling mudah (garis dan bentuk), pakai format 3 langkah 10–15 menit, lalu rotasi aktivitas 7 hari. Setelah itu, evaluasi dengan checklist observasi 2 minggu. Bila terlihat ada hambatan yang konsisten, jangan ragu cari bantuan profesional agar anak mendapat dukungan yang tepat.
Jika Ayah Bunda ingin lanjut dengan materi yang lebih rapi per paket (gratis dan premium), silakan cek: https://solusiparentinganak.com/, https://solusiparentinganak.com/download-gratis/, dan https://solusiparentinganak.com/paket-belajar/.
