Pengurangan dasar kelas 1 dari benda nyata ke soal di kertas: tahapan konkret-gambar-simbol, strategi 1–10 & 1–20, contoh soal, dan rutinitas 10 menit.

Pengurangan Dasar Kelas 1: Dari Benda Nyata ke Soal di Kertas (Step-By-Step)

Ayah membantu anak belajar pengurangan dasar di meja belajar
Sumber: Annushka Ahuja (Pexels) — Lisensi: Pexels License

Untuk Ayah Bunda yang sedang mendampingi anak kelas 1 SD: pengurangan itu bukan sekadar “angka besar dikurangi angka kecil”. Anak perlu merasakan konsep “berkurang” lewat benda nyata dulu, baru pindah ke gambar, lalu ke simbol di kertas. Cara ini bikin anak lebih paham, lebih tenang, dan lebih cepat “nempel” tanpa hafalan yang memaksa.

Untuk guru kelas 1 atau pendamping belajar: artikel ini menyusun urutan latihan pengurangan dasar (1–10 lalu 1–20) dengan contoh aktivitas, ide lembar soal, dan cara mengecek pemahaman. Banyak contoh bisa langsung dipraktikkan di kelas maupun di rumah.

Kalau Ayah Bunda juga sedang mengumpulkan bahan belajar calistung, silakan lihat halaman utama https://solusiparentinganak.com/ dan koleksi https://solusiparentinganak.com/download-gratis/. Untuk versi paket yang rapi dan siap cetak, ada juga https://solusiparentinganak.com/paket-belajar/.

Ringkasan

Pengurangan dasar kelas 1 paling efektif diajarkan dengan urutan konkret → gambar → simbol (sering disebut pendekatan Concrete–Pictorial–Abstract). Anak mulai dari cerita “punya 8 permen, dimakan 3” menggunakan benda sungguhan, lalu menggambar dan mencoret, baru menulis 8 − 3 = 5. Cara ini membantu anak memahami makna tanda minus sebagai “berkurang” dan memahami konsep sisa, bukan sekadar menebak jawaban.

Setelah tahap dasar dalam 10 stabil, latihan dinaikkan ke 11–20 dengan strategi sederhana seperti garis bilangan, “bikin 10” (mis. 13 − 4 = 13 − 3 − 1), dan keluarga fakta (hubungan tambah–kurang). Artikel ini juga memberi contoh bank soal, ide membuat lembar latihan sendiri, serta rutinitas 10 menit per hari yang realistis untuk Ayah Bunda.

Daftar Isi

Inti Penting

  • Mulai dari benda nyata agar anak mengerti makna “berkurang”, bukan cuma prosedur.
  • Pindah ke gambar (coret/lingkari) sebelum menuntut simbol 7 − 2 = 5.
  • Latihan dibagi level: dalam 10 dulu, lalu bertahap ke 20.
  • Ajarkan strategi: garis bilangan, “jadi 10”, dan keluarga fakta.
  • Rutinitas 10 menit per hari jauh lebih efektif daripada maraton 1 jam.

Kenapa Pengurangan Perlu Dimulai dari Benda Nyata

Di kelas 1, banyak anak belum nyaman dengan simbol abstrak. Tanda “−” itu kecil, tetapi maknanya besar: ada sesuatu yang diambil/dihilangkan, lalu anak diminta mencari “sisa”. Kalau langsung lompat ke soal di buku, sebagian anak akan menebak atau sekadar menghafal pola.

Tanda Minus Itu Cerita, Bukan Hiasan

Ayah Bunda bisa mengubah pengurangan menjadi cerita pendek. Misalnya:

  • “Ada 9 kue, 4 dimakan. Sisa berapa?”
  • “Ada 7 mobil-mobilan, 2 dipinjam kakak. Tinggal berapa?”

Dengan cerita, anak paham bahwa pengurangan adalah situasi, bukan “tugas hitung” semata.

Prinsip CPA: Konkret → Gambar → Simbol

Urutan CPA membantu anak membangun jembatan dari dunia nyata ke matematika. Singkatnya:

  • Konkret: pakai kancing, stik es krim, lego, kacang, atau tutup botol.
  • Gambar: anak menggambar bulatan/garis, lalu mencoret yang “diambil”.
  • Simbol: baru tulis kalimat matematika (mis. 12 − 5 = 7).

Kalau butuh aktivitas motorik halus sebagai pemanasan, ide gunting-tempel bisa diambil dari https://solusiparentinganak.com/printable-menggunting-dan-menempel/ sebelum masuk sesi berhitung.

Persiapan Alat Murah di Rumah

Ayah Bunda tidak perlu alat mahal. Intinya: benda kecil yang mudah dipindahkan, jumlahnya cukup, dan aman untuk anak.

10 Benda Favorit untuk “Manipulatif” Rumahan

  • Tutup botol plastik
  • Kancing baju
  • Stik es krim
  • Koin mainan
  • Balok lego
  • Kacang hijau/kedelai (pastikan aman dan diawasi)
  • Pom-pom craft
  • Klips kertas
  • Sedotan dipotong kecil
  • Manik-manik besar

Aturan Main Biar Rapi dan Tidak “Kebablasan”

  • Mulai dengan maksimal 10 benda dulu (anak tidak mudah kewalahan).
  • Pakai alas (piring kertas / baki) supaya benda tidak menyebar.
  • Setiap soal: “susun dulu, ambil sesuai cerita, hitung sisa”.
  • Kalau anak mulai asal ambil, ulangi dengan tempo lebih pelan.

Tahap 1: Pengurangan dengan Benda Nyata (Concrete)

Target tahap ini: anak mengerti makna sisa. Jangan buru-buru mengejar cepat. Fokus pada proses dan bahasa.

Skenario Cerita 1–10 yang Paling Mudah

Mulai dari angka kecil dengan pola “punya → diambil → sisa”. Contoh:

  • Susun 6 tutup botol. “Diambil 1.” Hitung sisa. Tulis: 6 − 1 = 5.
  • Susun 8 stik. “Diambil 3.” Hitung sisa. Tulis: 8 − 3 = 5.
  • Susun 10 lego. “Diambil 4.” Hitung sisa. Tulis: 10 − 4 = 6.

Trik kecil: pilih hasil yang “enak dilihat” dulu (mis. sisa 5, 6, 7). Anak jadi lebih percaya diri.

Teknik “Ambil Lalu Hitung Sisa” (Bukan Hitung Mundur Dulu)

Seringnya anak langsung ingin menghitung mundur: “8…7…6…5”. Ini boleh, tetapi jangan jadi satu-satunya cara. Arahkan seperti ini:

  1. Susun 8 benda berjajar.
  2. Ambil 3 benda dan taruh di sisi lain.
  3. Sentuh satu per satu benda yang tersisa, sebutkan jumlahnya.
  4. Baru tulis 8 − 3 = 5.

Jika anak bingung, gunakan pertanyaan pemandu: “Yang tersisa ada berapa?” bukan “Jawabannya berapa?”

Tahap 2: Dari Benda ke Gambar (Pictorial)

Setelah anak nyaman dengan benda nyata, pindah ke gambar. Di sini anak belajar mewakili benda dengan simbol sederhana: bulatan, garis, atau kotak kecil.

Metode Gambar-Coret (Paling Cepat Dipahami)

Contoh 9 − 4:

  1. Gambar 9 bulatan: ● ● ● ● ● ● ● ● ●
  2. Coret 4 bulatan pertama: X X X X ● ● ● ● ●
  3. Hitung yang tidak tercoret: 5
  4. Tulis 9 − 4 = 5

Ayah Bunda bisa membuat “lembar coret” sendiri, atau ambil versi printable dari koleksi gratis di https://solusiparentinganak.com/download-gratis/.

Ten-Frame dan Titik (Bagus untuk Dalam 10)

Ten-frame adalah kotak 2×5. Anak mengisi titik sesuai angka, lalu “menghapus” titik yang diambil. Metode ini membantu anak melihat pola 10 secara visual (mis. 10 − 6 = 4 terlihat sebagai “sisa 4 kotak kosong”). Referensi latihan visual serupa juga banyak tersedia di https://www.khanacademy.org/math/cc-2nd-grade-math/x3184e0ec%3Aadd-and-subtract-within-20/x3184e0ec%3Asubtract-within-20/e/subtraction_2.

Tahap 3: Ke Simbol di Kertas (Abstract)

Baru setelah tahap gambar kuat, anak diajak mengerjakan soal angka. Kunci tahap ini: anak tetap membayangkan benda/gambar di kepala, meski di kertas hanya ada angka.

Cara Membaca Kalimat Matematika agar Anak Tidak Salah Arah

  • “7 − 2” dibaca: “tujuh dikurangi dua” atau “dari tujuh ambil dua”.
  • “Hasilnya” adalah “sisa” atau “tinggal”.
  • Biasakan anak menunjuk angka pertama dulu (yang “punya”).

Jika anak sering membalik (mis. 2 − 7), berarti konsep “punya dulu” belum mantap. Mundur sebentar ke tahap gambar.

Latihan Bertahap: Dalam 10 Dulu, Baru ke 20

Urutan yang aman untuk kelas 1:

  1. Kurang 1, 2, 3 (mis. 9 − 1, 9 − 2, 9 − 3).
  2. Kurang “pasangan 10” (mis. 10 − 5, 10 − 6).
  3. Kurang dengan hasil kecil (mis. 7 − 6, 8 − 7).
  4. Baru masuk 11–20 dengan bantuan “bikin 10”.

Standar kemampuan operasi tambah-kurang dalam 20 sering disebut dalam rujukan kurikulum internasional seperti 1.OA.C.6: https://thecorestandards.org/Math/Content/1/OA/C/6/. Ini bukan untuk membebani, tetapi sebagai gambaran target bertahap.

Strategi Wajib Kelas 1: Number Line, Make Ten, Fact Family

Setelah anak bisa “ambil lalu hitung sisa”, tahap berikutnya adalah membuat anak punya lebih dari satu strategi. Tujuannya bukan pamer cara, tapi mengurangi ketergantungan pada hitung satu-satu.

Garis Bilangan (Number Line): Lompat Mundur

Buat garis bilangan 0–20 di kertas. Untuk 14 − 5, anak berdiri di 14 lalu “lompat mundur” 5 langkah: 13, 12, 11, 10, 9. Hasilnya 9. Lama-lama, anak akan membuat lompatan lebih besar (mis. mundur 2 lalu mundur 3).

“Bikin 10” untuk 11–20 (Decompose to Ten)

Ini strategi paling berguna di kelas 1–2. Contoh 13 − 4:

  • Pecah 4 menjadi 3 dan 1.
  • 13 − 3 = 10
  • 10 − 1 = 9

Strategi ini juga muncul di contoh standar 1.OA.C.6 dan efektif untuk membangun rasa angka (number sense).

Keluarga Fakta (Fact Family): Hubungan Tambah dan Kurang

Kalau anak tahu 8 + 4 = 12, maka anak juga bisa tahu:

  • 12 − 8 = 4
  • 12 − 4 = 8

Untuk bacaan guru/orang tua tentang fakta tambah-kurang dan tahap pengajarannya, bisa melihat artikel PDF NCTM: https://pubs.nctm.org/downloadpdf/journals/tcm/8/1/article-p28.pdf.

Contoh Soal Step-By-Step (1–10, 1–20, Soal Cerita)

Bagian ini bisa dipakai sebagai “bank soal mini” untuk 10 menit latihan. Prinsipnya: sedikit tapi rutin.

20 Soal Mudah (Mulai dari Dalam 10)

  1. 5 − 1 = …
  2. 6 − 1 = …
  3. 7 − 2 = …
  4. 8 − 3 = …
  5. 9 − 4 = …
  6. 10 − 5 = …
  7. 10 − 1 = …
  8. 10 − 2 = …
  9. 10 − 3 = …
  10. 10 − 4 = …
  11. 9 − 1 = …
  12. 9 − 2 = …
  13. 8 − 1 = …
  14. 8 − 2 = …
  15. 7 − 1 = …
  16. 7 − 3 = …
  17. 6 − 2 = …
  18. 6 − 3 = …
  19. 5 − 2 = …
  20. 5 − 3 = …

Jika anak sudah stabil, naikkan ke 11–20 dengan strategi “bikin 10”. Ayah Bunda bisa juga selingi latihan online sederhana (sebagai variasi, bukan pengganti manipulatif) di: https://www.khanacademy.org/math/cc-2nd-grade-math/x3184e0ec%3Aadd-and-subtract-within-20/x3184e0ec%3Asubtract-within-20/e/subtraction_2.

Soal Cerita Sehari-Hari (Biar Minus “Hidup”)

  • Ayah Bunda menaruh 12 sendok di meja. Dipakai 5. Tinggal berapa?
  • Anak punya 15 stiker. Diberi teman 3. Tinggal berapa?
  • Di rak ada 18 buku. Dipinjam 7. Sisa berapa?
  • Ada 10 kurma. Dimakan 2 setelah magrib. Sisa berapa?

Kalau butuh tema islami untuk membuat soal terasa dekat, worksheet bertema masjid bisa menginspirasi konteks cerita: https://solusiparentinganak.com/worksheet-tema-masjid-untuk-paud-pdf/.

Cara Membuat Lembar Soal Sendiri + Rutinitas 10 Menit

Ayah Bunda tidak harus menunggu buku paket. Lembar soal buatan sendiri justru bisa lebih pas dengan level anak.

Pola Mingguan (Naik Level Tanpa Drama)

  • Senin: 6 soal kurang 1 dan kurang 2 (dalam 10).
  • Selasa: 6 soal kurang 3 dan kurang 4 (dalam 10).
  • Rabu: 6 soal “pasangan 10” (10 − …).
  • Kamis: 4 soal campuran + 2 soal cerita.
  • Jumat: permainan cepat: “ambil benda” + satu lembar mini review.

Untuk menjaga variasi latihan calistung lain (agar anak tidak jenuh dengan angka terus), kombinasikan dengan aktivitas bahasa/otorik dari https://solusiparentinganak.com/download-gratis/ atau paket lengkap di https://solusiparentinganak.com/paket-belajar/.

Tips Anti Bosan yang Realistis

  • Gunakan benda favorit anak (mobil-mobilan, koin mainan, stiker).
  • Ganti format: hari ini susun-ambil, besok gambar-coret, lusa garis bilangan.
  • Berikan “pilihan terbatas”: “mau soal 6 dulu atau 8 dulu?”
  • Rayakan proses: “cara ambil dan hitung sisanya sudah rapi” (bukan cuma nilai).

Jika anak kelas 1 adalah anak laki-laki yang sedang aktif-aktifnya, kadang gaya belajar perlu lebih banyak gerak dan jeda. Bacaan pendamping untuk memahami pola perilaku usia 6–9 tahun bisa dilihat di: https://solusiparentinganak.com/parenting-anak-laki-laki-usia-6-9-tahun/.

Apa yang Jarang Dibahas

Banyak latihan pengurangan gagal bukan karena anak “tidak bisa”, tetapi karena ada beberapa hal kecil yang luput diperhatikan. Pertama, bahasa soal. Kalimat “berkurang” punya banyak bentuk: diambil, dimakan, hilang, dipinjam, dibagikan, terjatuh, sisa, tinggal. Anak kelas 1 kadang terpeleset bukan pada hitungannya, melainkan pada memahami cerita. Solusinya: latih satu jenis kata dulu selama beberapa hari, lalu variasikan perlahan.

Kedua, beban kerja di kepala (working memory). Saat anak diminta menyelesaikan 14 − 9, lalu diminta menulis rapi, lalu diminta mengingat langkah, semuanya terjadi bersamaan. Kalau hasilnya salah, belum tentu konsepnya salah. Bisa jadi anak “penuh” dan panik. Cara menolongnya: pecah tugas. Misalnya, minta anak hanya menunjuk di garis bilangan dulu tanpa menulis. Setelah yakin hasilnya, baru tulis kalimat matematikanya.

Ketiga, kecepatan bukan tujuan awal. Mengejar cepat sering membuat anak lompat strategi “hitung sisa” dan langsung menebak. Di fase awal, lebih sehat menilai anak dari konsistensi proses: susun → ambil → hitung sisa → cocokkan dengan tulisan. Kecepatan biasanya akan mengikuti dengan sendirinya.

Keempat, miskonsepsi “yang besar pasti dikurangi yang kecil”. Ini sering muncul karena anak melihat contoh soal searah terus. Begitu menemukan soal cerita “Budi punya 3 kelereng, lalu diberi 5”, anak mengira itu pengurangan. Padahal itu penjumlahan. Maka penting untuk mengajarkan “kata kunci” secara hati-hati: bukan sekadar kata “sisa”, tetapi memahami peristiwa. Bila peristiwanya bertambah, itu tambah; bila peristiwanya berkurang, itu kurang.

Kelima, transisi ke 20 sering membuat anak seperti “reset”. Anak yang lancar dalam 10 tiba-tiba tersendat di 12 − 7. Di sini, strategi “bikin 10” adalah penyelamat, karena anak tidak perlu menghitung mundur 7 langkah satu-satu. Ayah Bunda cukup mengulang contoh yang sama beberapa hari: 11 − …, 12 − …, 13 − … dengan memecah pengurang agar “mendarat” di 10.

Terakhir, latihan yang terlalu mudah juga bisa menjebak. Jika anak hanya mengerjakan 10 − 1, 10 − 2 terus-menerus, anak jadi cepat tetapi tidak belajar fleksibel. Setelah 3–4 hari stabil, sisipkan soal dengan pengurang besar (mis. 9 − 8, 8 − 7) untuk melatih “selisih kecil” dan membangun intuisi.

Jika Ayah Bunda ingin menyesuaikan target dengan standar kelas awal, dokumen ringkas standar matematika juga bisa dilihat di: https://learning.ccsso.org/wp-content/uploads/2022/11/ADA-Compliant-Math-Standards.pdf (PDF).

FAQ

Usia berapa anak mulai belajar pengurangan?

Umumnya saat anak sudah paham konsep jumlah 1–10 dan bisa menghitung benda satu per satu. Di kelas 1 SD, pengurangan dasar bisa mulai dengan benda nyata dan cerita sederhana, tanpa target cepat.

Kalau anak sering tertukar “tambah” dan “kurang”, apa yang perlu dilakukan?

Perkuat pemahaman peristiwa. Gunakan dua cerita yang kontras: satu cerita “bertambah” (diberi/menang) dan satu cerita “berkurang” (dimakan/diambil). Minta anak memilih operasi dulu, baru menghitung. Jika masih bingung, kembali ke benda nyata.

Apakah anak harus menghafal semua fakta pengurangan?

Hafalan boleh muncul belakangan sebagai hasil latihan, bukan sebagai titik awal. Yang lebih penting: anak punya strategi (ambil-sisa, gambar-coret, garis bilangan, bikin 10). Setelah strategi kuat, fakta pengurangan akan lebih mudah diingat.

Di mana bisa mendapatkan lembar kerja pengurangan yang gratis dan siap cetak?

Ayah Bunda bisa mulai dari halaman unduhan gratis di https://solusiparentinganak.com/download-gratis/. Jika butuh versi lebih lengkap dan tertata per level, lihat paket belajar di https://solusiparentinganak.com/paket-belajar/.

Daftar Istilah

Pengurangan
Operasi matematika untuk mencari sisa setelah sebagian diambil/dihilangkan.
Manipulatif
Benda nyata yang dipakai anak untuk memodelkan konsep matematika (kancing, stik, lego).
CPA (Concrete–Pictorial–Abstract)
Urutan belajar dari benda nyata, lalu gambar, lalu simbol angka.
Garis bilangan
Deretan angka berurutan yang membantu anak “melihat” lompatan maju/mundur.
Fact family
Keluarga fakta yang menghubungkan penjumlahan dan pengurangan (mis. 8+4=12, 12−8=4, 12−4=8).

Penutup

Pengurangan dasar kelas 1 akan terasa ringan jika dimulai dari pengalaman nyata: anak memegang benda, mengambil, lalu melihat sisa. Setelah itu, gambar menjadi jembatan yang aman menuju soal di kertas. Dengan strategi garis bilangan, bikin 10, dan keluarga fakta, anak pelan-pelan pindah dari “hitung satu-satu” ke cara yang lebih cerdas.

Yang paling penting, Ayah Bunda tidak perlu mengejar cepat. Rutinitas singkat yang konsisten biasanya memberi hasil yang jauh lebih stabil. Jika membutuhkan worksheet tambahan, koleksi gratis dan paket siap cetak ada di tautan interlink yang sudah disisipkan di atas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *