Penjumlahan Dasar Kelas 1: Latihan 1–10 & 1–20 + Lembar Soal PDF

Untuk siapa artikel ini? Panduan ini ditulis untuk Ayah Bunda yang mendampingi anak kelas 1 SD belajar penjumlahan dasar—baik yang baru mulai dari 1–10, maupun yang sudah naik level ke 1–20.
Yang akan Ayah Bunda dapatkan: metode 10 menit per hari, strategi visual (garis bilangan, ten-frame, dan pasangan bilangan), contoh soal bertahap, serta format “lembar soal PDF” (print-ready) yang bisa langsung dicetak atau disimpan sebagai PDF.
Penjumlahan sering terlihat “sepele” sampai anak mulai bingung, cepat capek, atau makin bergantung pada jari. Kabar baiknya: biasanya bukan karena anak tidak pintar, tetapi karena pondasi konsep belum terbentuk. Kalau pondasinya rapi, kecepatan akan mengikuti.
Di kelas 1, target utama bukan mengerjakan sebanyak mungkin soal, melainkan membangun kebiasaan berpikir: melihat jumlah sebagai gabungan, memahami urutan bilangan, dan memakai strategi yang masuk akal (bukan tebak-tebakan). Itulah yang membuat anak tahan menghadapi soal cerita, plus–minus campuran, sampai nanti ke puluhan.
Jika Ayah Bunda juga sedang mengumpulkan materi printable untuk latihan rutin, halaman Download Gratis dan Paket Belajar bisa jadi “bank bahan” supaya latihan tetap bervariasi tanpa perlu membuat dari nol.
Ringkasan
Intinya begini: mulai dari benda nyata → pindah ke gambar/ten-frame → baru ke angka. Latihan 10 menit per hari cukup, asal konsisten dan bertahap. Untuk penjumlahan 1–20, strategi “membuat 10” (make ten) biasanya paling cepat membuat anak paham.
Di bawah ini Ayah Bunda juga akan menemukan contoh lembar soal yang rapi untuk dicetak. Kalau perlu variasi aktivitas motorik halus agar anak tidak bosan duduk terus, selingi dengan latihan gunting untuk anak 2 tahun (konsepnya sama: rutinitas singkat tapi konsisten) atau printable tematik seperti worksheet rukun iman.
Daftar Isi
- Ringkasan
- Daftar Isi
- Inti Penting
- Tujuan Belajar Penjumlahan di Kelas 1
- Konsep Dasar Sebelum Hafalan
- Metode Cepat 10 Menit per Hari
- Alat Bantu Visual yang Mudah
- Latihan Penjumlahan 1–10
- Latihan Penjumlahan 1–20
- Lembar Soal PDF Siap Print
- Cara Menilai & Memperbaiki Kesalahan
- Tips untuk Anak yang Masih Lambat
- Apa yang Jarang Dibahas
- FAQ
- Daftar Istilah
- Penutup
Inti Penting
- Konsep dulu, cepat belakangan. Pastikan anak paham “menambah berarti gabung”, bukan sekadar menghafal hasil.
- 10 menit per hari lebih kuat daripada 1 jam seminggu. Otak anak lebih mudah menyerap latihan singkat yang berulang.
- Gunakan visual. Benda nyata, garis bilangan, dan ten-frame membantu anak “melihat” penjumlahan.
- Naik level pelan. Kuasai 1–10 → baru 1–20 dengan strategi membuat 10.
- Ukur progres dengan cara sederhana. Fokus pada akurasi dan strategi, bukan hanya kecepatan.
Tujuan Belajar Penjumlahan di Kelas 1
Tujuan penjumlahan kelas 1 bukan sekadar “bisa jawab 7+5”, tetapi:
- anak paham bahwa angka mewakili banyaknya benda (kuantitas),
- anak bisa menghitung maju dengan stabil (1,2,3… tanpa loncat),
- anak mulai mengenali pola (misalnya 3+3 itu “dobel”),
- anak berani menjelaskan cara berpikirnya (“aku mulai dari 8 lalu loncat 2”).
Kalau Ayah Bunda ingin melihat rujukan tambahan tentang model-model representasi penjumlahan (benda, gambar, simbol), salah satu referensi profesional yang bagus adalah materi NCTM berikut: https://www.nctm.org/uploadedFiles/Conferences_and_Professional_Development/Institues/Pre-K-Grade_5_Number_and_Operations/addition%20and%20subtraction_2015%20final.pdf.
Kapan Anak Siap Latihan 1–10?
Biasanya anak siap latihan penjumlahan 1–10 jika sudah cukup stabil pada 3 hal ini:
- bisa menghitung maju sampai 20 tanpa banyak salah urutan,
- bisa menunjuk benda sambil menghitung satu-satu (one-to-one),
- paham konsep “lebih banyak” dan “lebih sedikit” saat membandingkan dua kelompok benda.
Kalau masih sering melewatkan angka (misalnya setelah 8 langsung 10), kembalikan dulu ke latihan urutan bilangan dan menghitung benda nyata.
Target Kecil yang Realistis
Target yang sering terlalu berat adalah “anak harus hafal semua penjumlahan 0–20”. Lebih realistis (dan lebih efektif) begini:
- Minggu 1: lancar penjumlahan sampai 10 dengan bantuan benda/gambar.
- Minggu 2: mulai “counting on” (mulai dari angka pertama lalu lanjut).
- Minggu 3: kenal pola dobel (2+2, 3+3, 4+4) dan pasangan 10 (1+9, 2+8, dst.).
- Minggu 4: naik ke penjumlahan sampai 20 dengan strategi membuat 10.
Konsep Dasar Sebelum Hafalan
Di usia kelas 1, anak belajar paling cepat jika konsepnya “kelihatan”. Karena itu, sebelum mengejar lembar soal, pastikan ada tahap konkret → visual → simbol:
- Konkret: anak memindah-mindahkan benda (kancing, lego, tutup botol).
- Visual: anak menggambar titik, pakai ten-frame, atau garis bilangan.
- Simbol: anak menulis 6 + 3 = 9.
Dari Benda Nyata ke Angka
Coba latihan sederhana ini (2 menit): ambil 5 tutup botol dan 3 tutup botol. Gabungkan. Minta anak menghitung totalnya. Lalu tulis “5 + 3 = 8”. Ulangi dengan pasangan angka lain.
Trik kecil: biarkan anak yang “mengatur” benda (bukan Ayah Bunda). Saat anak yang memindahkan, otaknya lebih terlibat dan lebih cepat paham.
Bahasa Matematika yang Perlu Dikuasai
Anak kelas 1 sering salah bukan karena hitungannya, tetapi karena bingung bahasa soal. Biasakan kosa kata berikut:
- tambah / ditambah / jumlah / total = digabung,
- lebih banyak = jumlahnya lebih besar,
- sisa (nanti di pengurangan) = yang masih ada,
- pasangan = dua angka yang kalau dijumlahkan jadi target tertentu (misalnya 10).
Metode Cepat 10 Menit per Hari
Ini format latihan yang paling “ramah jadwal” untuk Ayah Bunda. Kuncinya: singkat, konsisten, dan selalu ada review kecil.
Rutinitas 10 Menit: 3 Langkah
Template 10 Menit (bisa ditempel di kulkas)
- 2 menit pemanasan: hitung maju 1–20, lalu hitung mundur 10–0.
- 6 menit latihan inti: 8–12 soal penjumlahan sesuai level (contoh lembar soal ada di bawah).
- 2 menit “cerita angka”: buat 2 soal cerita dari kehidupan sehari-hari (misal: “Ada 4 permen, ditambah 3 permen…”).
Aturan Berhenti Saat Masih Semangat
Kalau anak sudah benar 8 dari 10 soal dan masih semangat, boleh tambah 2 soal. Tapi kalau mulai gelisah, berhenti dulu. Tujuannya agar otak mengasosiasikan matematika dengan “bisa” dan “aman”, bukan tegang.
Jadwal Mingguan Sederhana
- Senin–Kamis: latihan 10 menit (inti: 1–10 dulu, lalu 1–20).
- Jumat: hari “game” (tanpa lembar soal; pakai kartu angka atau dadu).
- Sabtu: review ringan 5 menit.
- Minggu: libur total (biar otak beristirahat).
Jika Ayah Bunda butuh variasi printable yang tetap edukatif tapi tematik (agar anak tidak merasa “dikerjain soal terus”), cek juga artikel parenting lain seperti parenting anak perempuan usia 4 tahun untuk ide aktivitas pendamping yang lebih luas.
Alat Bantu Visual yang Mudah
Alat bantu visual membuat penjumlahan terasa seperti “melihat”, bukan “menebak”. Ayah Bunda tidak perlu beli alat mahal—yang penting cara pakainya.
Gunakan Benda di Rumah
Rekomendasi benda yang aman dan mudah dihitung:
- tutup botol, kancing besar, stik es krim, lego, atau potongan sedotan,
- kartu angka buatan sendiri (tulis 0–20 di kertas kecil),
- dadu (untuk game penjumlahan cepat).
Aturan emas: jumlah benda maksimal 20 dulu. Terlalu banyak benda membuat anak capek menghitung sebelum sempat paham konsep.
Garis Bilangan untuk “Loncat Angka”
Garis bilangan membantu anak memahami counting on: mulai dari angka pertama, lalu loncat sebanyak angka kedua. Referensi cara pakainya (bahasa Inggris) bisa dilihat di sini: https://www.twinkl.com/blog/how-to-use-a-number-line-in-key-stage-one.
Contoh: 8 + 5. Letakkan jari di angka 8. Loncat 5 kali: 9, 10, 11, 12, 13. Jadi 8 + 5 = 13.
Ten-Frame untuk Membuat 10
Ten-frame (bingkai 10) adalah kotak 2×5 yang membantu anak melihat “penuh 10”. Ini sangat berguna untuk penjumlahan 1–20 karena anak jadi mudah melakukan strategi membuat 10. Contoh lembar ten-frame bisa dilihat di: https://www.education.com/resources/worksheets/math/addition/addition-strategies/add-using-ten-frames/.
Pasangan Bilangan (Number Bonds)
Pasangan bilangan adalah dua angka yang membentuk jumlah tertentu. Yang paling penting di kelas 1:
- Pasangan 10: 1+9, 2+8, 3+7, 4+6, 5+5.
- Dobel: 1+1, 2+2, 3+3, 4+4, 5+5.
Kalau pasangan 10 sudah otomatis, penjumlahan 1–20 jadi jauh lebih ringan.
Latihan Penjumlahan 1–10
Fokus latihan 1–10 adalah membangun rasa aman: anak yakin bahwa “menambah itu gabung”, dan punya cara menghitung yang konsisten. Di tahap ini, boleh sekali-sekali pakai jari—yang penting anak tahu langkahnya.
Lembar Latihan Level 1: Hitung Maju
Lembar A — Penjumlahan Sampai 10 (12 soal)
- 1 + 2 = …
- 2 + 3 = …
- 3 + 1 = …
- 4 + 2 = …
- 5 + 1 = …
- 6 + 2 = …
- 7 + 1 = …
- 8 + 1 = …
- 4 + 4 = …
- 5 + 3 = …
- 2 + 7 = …
- 6 + 3 = …
Catatan: minta anak menunjukkan caranya (benda/garis bilangan). Jawaban benar tanpa cara = belum tentu paham.
Lembar Latihan Level 2: Pola & Pasangan
Lembar B — Doble & Pasangan 10 (12 soal)
- 5 + 5 = …
- 4 + 4 = …
- 3 + 3 = …
- 2 + 2 = …
- 1 + 9 = …
- 2 + 8 = …
- 3 + 7 = …
- 4 + 6 = …
- 6 + 4 = …
- 7 + 3 = …
- 8 + 2 = …
- 9 + 1 = …
Tip: ajak anak menyebut “pasangannya” sebelum menghitung. Misal: “4 pasangannya 6 untuk jadi 10”.
Permainan Hemat Kertas
- Game dadu + garis bilangan: lempar 2 dadu, jumlahkan, lalu loncat di garis bilangan.
- Game kartu angka: ambil 2 kartu, jumlahkan. Siapa paling cepat menjelaskan strateginya dapat poin.
- Game “tambah 1”: sebut angka acak 0–9, anak jawab angka setelahnya. Lanjut “tambah 2”, “tambah 3”.
Latihan Penjumlahan 1–20
Begitu anak nyaman di 1–10, naik ke 1–20 jangan langsung “banjir soal”. Gunakan strategi yang membuat otak anak ringan: membuat 10, memakai pasangan bilangan, dan memecah angka.
Strategi Membuat 10 (Make Ten)
Strategi “membuat 10” mengubah penjumlahan yang terasa berat jadi dua langkah kecil. Contoh: 8 + 6.
- Ambil 2 dari 6 untuk “melengkapi” 8 menjadi 10.
- Sisa 4. Jadi 10 + 4 = 14.
Latihan seperti ini sejalan dengan pendekatan ten-frame dan latihan “within 20” yang banyak dipakai. Untuk latihan interaktif, Ayah Bunda bisa intip unit latihan sampai 20 di: https://www.khanacademy.org/math/early-math/cc-early-math-add-sub-20.
Latihan Bertahap 11–20
Lembar C — Penjumlahan Sampai 20 (12 soal)
- 9 + 6 = …
- 8 + 7 = …
- 7 + 8 = …
- 6 + 9 = …
- 10 + 4 = …
- 10 + 7 = …
- 11 + 3 = …
- 12 + 5 = …
- 13 + 4 = …
- 14 + 2 = …
- 15 + 5 = …
- 16 + 3 = …
Tip: untuk soal 9+6, 8+7, 7+8, 6+9: minta anak selalu menyebut “buat 10 dulu” sebelum menghitung.
Soal Cerita Sederhana
Lembar D — Soal Cerita (8 soal)
- Di meja ada 6 pensil. Ayah Bunda menambah 5 pensil lagi. Ada berapa pensil sekarang?
- Zahra punya 9 kelereng. Dapat hadiah 7 kelereng. Total kelereng Zahra berapa?
- Di piring ada 8 biskuit. Ditambah 4 biskuit. Jadi berapa?
- Ada 10 stiker. Ditambah 6 stiker. Total berapa?
- Di rak ada 12 buku. Ditambah 3 buku. Total berapa?
- Ayah Bunda menaruh 5 apel di keranjang, lalu menambah 9 apel. Total apel berapa?
- Di kotak ada 14 krayon. Ditambah 2 krayon. Jadi berapa?
- Ada 7 mobil-mobilan. Ditambah 8 mobil-mobilan. Total berapa?
Tip: biarkan anak menggambar titik atau ten-frame sebelum menjawab.
Lembar Soal PDF Siap Print
Ayah Bunda bisa menjadikan “Lembar A–D” di atas sebagai PDF tanpa aplikasi rumit. Ini juga memudahkan jika ingin mengulang latihan yang sama 2–3 kali dengan jeda beberapa hari.
Cara Mencetak Jadi PDF
- Buka halaman ini di laptop/PC.
- Tekan Ctrl + P (Windows) atau Cmd + P (Mac).
- Pilih printer: Save as PDF.
- Atur skala 100% dan margin “Default”.
- Simpan file, lalu cetak kapan pun diperlukan.
Kalau Ayah Bunda ingin kumpulan lembar kerja yang lebih banyak (variasi angka, bentuk soal, dan tema), cek koleksi freebie atau versi bundling di paket belajar.
Format Lembar Soal yang Disarankan
Supaya anak tidak cepat lelah, format lembar soal yang ideal untuk kelas 1 biasanya:
- 8–12 soal per sesi (maks 1 halaman).
- Campur 2–3 soal yang mudah + 2–3 soal yang menantang.
- Selalu sisakan ruang untuk “cara” (gambar titik/garis bilangan).
Bonus: Template Koreksi
Template Koreksi (Ayah Bunda bisa tulis manual)
- ✅ Benar & strateginya rapi: lanjut level berikutnya.
- ✅ Benar tapi masih “tebak”: ulang 3 soal dengan benda/ten-frame.
- ❌ Salah karena lompat angka: kembali ke garis bilangan (latihan counting on).
- ❌ Salah karena bingung soal cerita: latih “gambar dulu” sebelum hitung.
Cara Menilai & Memperbaiki Kesalahan
Penilaian untuk kelas 1 sebaiknya ringan: cukup lihat pola salahnya. Setelah tahu polanya, perbaikan jadi cepat.
Kesalahan Umum dan Solusi Cepat
- Salah urutan saat menghitung: lakukan pemanasan hitung maju/mundur tiap sesi.
- Angka terbalik (6 jadi 9, 12 jadi 21): perbanyak latihan menulis angka dan baca perlahan.
- Selalu mulai dari 1 (count all): latih “mulai dari angka pertama” (counting on) dengan garis bilangan.
- Macet di 8+7, 9+6: fokus strategi membuat 10 + ten-frame.
Cara Mengukur Progres 7 Hari
Ambil 10 soal yang sama (misalnya dari Lembar A atau C). Kerjakan hari 1, ulang di hari 4, ulang lagi di hari 7. Catat 3 hal:
- Akurasi: berapa yang benar?
- Strategi: apakah anak mulai “buat 10” tanpa disuruh?
- Rasa percaya diri: apakah anak lebih tenang?
Jika akurasi naik dan anak makin tenang, itu progres besar walau waktunya belum cepat.
Tips untuk Anak yang Masih Lambat
Setiap anak punya tempo berbeda. Tugas Ayah Bunda adalah membuat latihan tetap terasa mungkin untuk ditaklukkan.
Kalau Anak Sering Menghitung dengan Jari
Ini wajar di tahap awal. Alih-alih melarang, arahkan pelan-pelan:
- minta anak “simpan” angka pertama di kepala, jari hanya untuk loncatan angka kedua,
- gunakan garis bilangan supaya jari berpindah ke “loncat”, bukan menghitung dari 1,
- kenalkan pola dobel dan pasangan 10 agar beberapa jawaban jadi otomatis.
Kalau Anak Mudah Frustasi
- Turunkan jumlah soal: 6 soal pun tidak apa-apa kalau konsisten.
- Campur 4 soal mudah + 2 soal menantang.
- Gunakan kalimat yang menenangkan: “kita cari caranya”, bukan “kok salah terus”.
Kalau Ayah Bunda Waktu Terbatas
Pilih “minimum effective dose” ini: 5 menit setiap hari.
- 1 menit pemanasan (hitung maju 1–20).
- 3 menit 6 soal (acak, tapi sesuai level).
- 1 menit 1 soal cerita dari aktivitas hari itu.
Kalau konsisten 2 minggu, biasanya hasilnya terasa.
Apa yang Jarang Dibahas
Banyak panduan penjumlahan fokus pada “soal banyak-banyakan”. Padahal, untuk kelas 1, ada beberapa hal yang sering luput—dan justru menentukan apakah anak akan suka matematika atau malah menghindar.
1) Akurasi lebih dulu daripada kecepatan. Anak yang dipaksa cepat sebelum paham biasanya membangun kebiasaan menebak. Jangka pendek terlihat “lumayan”, tapi jangka panjang rapuh. Lebih baik lambat tapi bisa menjelaskan caranya. Begitu strategi terbentuk, kecepatan naik sendiri.
2) “Menghitung dengan jari” bukan musuh. Jari adalah alat konkret yang selalu ada. Yang perlu diubah bukan jari-nya, melainkan kebiasaan “menghitung dari 1”. Target transisinya: anak mulai dari angka pertama (counting on), lalu jari dipakai untuk loncatan. Ini jauh lebih realistis daripada melarang total.
3) Otak anak mudah penuh kalau tampilan lembar soal terlalu padat. Satu halaman penuh 40 soal bisa membuat anak lelah sebelum mulai. Karena itu, format 8–12 soal per sesi lebih ramah. Jika butuh variasi latihan “tanpa duduk lama”, selingi aktivitas motorik halus seperti menggunting–menempel (contoh: https://solusiparentinganak.com/latihan-gunting-anak-2-tahun/). Anak tetap belajar fokus, tapi caranya berbeda.
4) Anak perlu “bahasa penjelasan”. Ajari kalimat sederhana: “Aku mulai dari 8, lalu loncat 5.” atau “Aku buat 10 dulu.” Saat anak bisa mengucapkan strateginya, biasanya ia juga lebih mudah mengulang strategi itu di soal lain.
5) Soal cerita sebaiknya dimulai dari dunia anak. Permen, stiker, krayon, mainan—lebih mudah dipahami daripada konteks yang jauh. Satu soal cerita per hari cukup, tetapi konsisten. Soal cerita membangun jembatan dari hitung-hitungan ke pemecahan masalah.
Jika Ayah Bunda ingin memperkaya “nuansa belajar” di rumah (bukan hanya angka), printable tematik juga bisa membantu mood anak. Misalnya, untuk anak yang suka kegiatan religius/tematik, bisa diselingi https://solusiparentinganak.com/worksheet-rukun-iman-untuk-anak-tk-pdf/ agar tetap terasa menyenangkan.
FAQ
Berapa lama latihan penjumlahan kelas 1 sampai lancar?
Rata-rata anak butuh 2–6 minggu untuk terasa jauh lebih lancar, dengan syarat latihannya singkat dan konsisten (5–10 menit per hari). “Lancar” di sini berarti anak tidak panik, tahu strateginya, dan akurasinya stabil. Kecepatan biasanya menyusul setelah strategi terbentuk.
Bagaimana mengajari penjumlahan tanpa memaksa hafalan?
Gunakan urutan konkret → visual → simbol. Mulai dari benda nyata, lanjut ten-frame/garis bilangan, baru tulis persamaan. Lalu minta anak menjelaskan cara (“mulai dari… loncat…”). Setelah pola sering dipakai, hafalan terjadi secara alami.
Apa bedanya penjumlahan 1–10 dan 1–20?
Di 1–10, fokusnya kestabilan menghitung dan mengenal gabungan jumlah. Di 1–20, fokusnya strategi agar tidak “capek menghitung”: pasangan 10, dobel, dan terutama make ten. Itulah alasan mengapa ten-frame dan garis bilangan sangat membantu di level 1–20.
Kapan perlu bantuan guru atau cek kesiapan belajar?
Pertimbangkan bantuan jika setelah 6–8 minggu latihan ringan, anak masih sangat kesulitan menghitung urutan 1–20, sering menulis angka terbalik parah, atau tampak sangat cemas saat bertemu angka. Bantuan bisa berupa guru pendamping, latihan yang lebih terstruktur, atau evaluasi kesiapan belajar (secara lembut dan tidak menakutkan).
Daftar Istilah
- Penjumlahan
- Operasi matematika untuk menggabungkan dua jumlah menjadi satu total (contoh: 4 + 3 = 7).
- Counting on
- Strategi menghitung dengan mulai dari angka pertama, lalu melanjutkan sebanyak angka kedua (contoh: mulai dari 8 lalu loncat 5 kali).
- Ten-frame
- Model kotak 2×5 untuk membantu anak “melihat” angka sampai 10 dan memudahkan strategi membuat 10.
- Make ten (membuat 10)
- Strategi memecah salah satu angka agar bisa membentuk 10 terlebih dahulu (contoh: 8+6 → 10+4).
- Number bonds (pasangan bilangan)
- Pasangan angka yang membentuk jumlah tertentu, misalnya pasangan 10: 1+9, 2+8, 3+7, 4+6, 5+5.
Penutup
Penjumlahan dasar kelas 1 adalah pintu masuk ke banyak keterampilan matematika berikutnya. Kalau pintunya dibuat ramah—pakai visual, latihan singkat, dan strategi yang jelas—anak biasanya jauh lebih percaya diri.
Ayah Bunda bisa mulai dari Lembar A (1–10) selama beberapa hari, lalu pindah ke Lembar B (pola), dan naik ke Lembar C–D (1–20 + soal cerita). Simpan halaman ini sebagai PDF agar mudah diulang tanpa menyiapkan ulang.
Jika ingin stok latihan tambahan, silakan jelajahi koleksi printable gratis atau bundle di paket belajar supaya rutinitas 10 menit tetap variatif dan anak tidak cepat bosan.
